Bagi Anda yang mungkin memiliki hobi membuat makanan ringan, seperti puding atau agar-agar, mengocok putih telur (tanpa kuning telur) untuk campuran adonan tentu bukan hal yang aneh. Putih telur yang dikocok tersendiri dapat mengembang penuh dan menjadi kakusehingga bila dicampur dengan agar-agar akan membentuk tekstur yang khas dan menjadikannya terasa lebih lezat.
Pernahkah Anda mengocok putih telur dan tidak mau mengembang serta tidak kaku? Di sini akan dibahas penyebabnya.
Putih telur (albumen) mengandung senyawa obalbumen, yaitu protein yang bersifat mampu membentuk busa (foaming). Pembusaan dapat terjadi apabla ada udara atau gas yang terperangkap di dalamnya. Semakin banyak udara atau gas yang terperangkap, pembusaan akan semakin hebat. Hal ini ditunjukkan oleh pengembangan volume dan kekakuan tekstur putih telur.
Udara dapat diperangkap sebanyak-banyaknya dengan cara melakukan pengocokan pada kecepatan tinggi menggunakan mixer. Meskipun demikian, sebenarnya pembusaan putih telur tidak hanya ditentukan oleh kualitas pengocokannya saja. Hal lain yang juga menentukan pembusaan putih telur adalah adanya senyawa lipid (lemak atau minyak).
Senyawa lipid bersifat menurunkan stabilitas busa yang dibentuk obalbumen sehingga hasil kocokan putih telur tidak mengembang atau tidak kaku. Penurunan stabilitas busa ini diakibatkan oleh menipisnya gelembung busa dan merenggangnya ikatan antar gelembung busa.
Hal-hal yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan hasil kocokan putih telur yang mengembang sempurna antara lain:
- pemisahan kuning telur dilakukan secara cermat ;
- hindari terikatnya kuning telur karena kuning telur mengandung senyawa lipid ;
- wadah dan alat pengocok (mixer) harus bersih dan bebas dari lemak / minyak ;
- lakukan pengocokan dengan kecepatan tinggi ;
- hindari panas atau suhu tinggi selama proses pengocokan.


